Ini Dia Pabrik Triplek Pertama di Lombok Tengah, NTB

Pabrik pemrosesan kayu lapis atau triplek saat ini telah ada di NTB. Pabrik dengan kemampuan 3.000 mtr. kubik kayu per bulan punya PT. Kayu Lima Sejahtera (KLS) ini sudah bekerja di Lombok Tengah (Loteng).

Kepala Sektor Pengaturan Rimba Dinas Lingkungan Hidup serta Kehutanan (LHK) NTB, Julmansyah, S. Hut, M.AP menyampaikan, kehadiran pabrik pemrosesan kayu itu berubah menjadi agunan pasar kayu yang ditanam oleh orang atau group orang di area perhutanan sosial. Oleh karena ada agunan pasar, orang dapat menggalakkan penanaman kayu sengon sebagai bahan baku triplek itu di tempat urgent yang menggapai beberapa ratus ribu hektare di NTB.

Pekerjaan pabrik triplek di Kabupaten Lombok Tengah. (Suara NTB/ist)
‘’Jenis kayunya (yang diperlukan) Sengon, definisi kayu lunak serta kayu cepat tumbuh. Umur tumbuhnya 5 – 6 tahun, petani bisa panen,” kata Julmansyah dilakukan konfirmasi Suara NTB, Minggu, 21 Juni 2020.

Dia mengatakan, sampai kini PT. Kayu Lima Sejahtera bekerjasama dengan orang di luar wilayah rimba. Serta juga terima kayu yang datang dari perhutanan sosial. ‘’Kita Dinas LHK menggerakkan biar KLS berubah menjadi pasar atau offtaker dari kayu-kayu yang telah ditanam oleh orang. Maka dari itu kayu orang mempunyai pasar,” tukasnya.

Perusahaan itu, saat ini sedang mengatur gagasan peningkatan Rimba Tanaman Industri (HTI) di Pulau Sumbawa seluas 7.000 hektare. Bahkan juga buat menyuplai kepentingan bahan baku kayu buat pabrik yang telah bekerja di Lombok Tengah, faksinya telah menghadapkan mereka dengan satu diantaranya pemegang izin HTI di Pulau Sumbawa.

Perusahaan pemegang izin HTI di Pulau Sumbawa itu telah mulai menanam kayu sengon mulai sejak beberapa tahun yang lalu serta umurnya tanamnya telah sangat mungkin buat ditebang. Tidak cuman kayu sengon di wilayah HTI, ada juga di wilayah perhutanan sosial. ‘’Kayu sengon di perhutanan sosial telah ada. Tinggal proses tebang saja. Sekedar harus mengatur administrasinya. Biar berubah menjadi legal,” tuturnya.

Sesi Awal, STIP dapat Ciptakan Industri Permesinan
Julmansyah menyampaikan, biar petani serta perusahaan saling untung. Faksinya bikin siasat biar group tani bekerjasama dengan perusahaan yang dijalankan dengan penandatanganan nota kesepakatan serta kesepakatan kerja sama.

READ  PLN Ungkap Seluruh Infrastruktur Listrik Sudah Melalui Tahap Pengujian

‘’Di situ ditata bab harga, bagaimana jual. Apa hak serta keharusan banyak faksi. Kita dapat ikat biar petani sejajar dengan perusahaan. Harga triplek  Memang mulai sejak awal petani serta perusahaan harus diikat dengan kesepakatan kerja sama biar ada kepercayaan kalau kayu yang ditanam mempunyai pasar serta harga,” tukasnya.

Julmansyah mengimbuhkan, pada suatu area wilayah, tidak saja ditanami kayu sengon. Akan tetapi juga bisa ditanami tanaman yang bisa berubah menjadi pakan dan kayu putih. Dimana, kayu sengon bisa dipanen 5 tahun sekali, kayu putih berulangkali dalam 1 tahun serta tanaman pakan ternak yang bisa dipanen tiap 45 hari.

‘’Itu stylenya agroforestry. Kita dapat rekayasa di Sekotong dahulu. Kalaupun sukses di Sekotong, kita replikasi ke tempat lainnya. Kita dapat dorong orang yang menanam. Banyak kades kita harap dapat tangkap kesempatan ini. Agar bisa mengerjakan rehabilitasi tempat urgent,” jelasnya.

Source : Info Material Bangunan

Comments are closed.