Harga Rumah Second Turun 30% Pasca Pandemi Corona

Pandemi Covid-19 di Indonesia berefek ke beberapa bagian usaha, termasuk juga industri property. Pemasaran rumah turun mencolok sampai lebih dari pada 37%, yang membuat harga jual rumah di pasar sekunder jadi drop 30%.

Ini membuat industri property dalam desakan, sebab daya membeli warga yang turun serta implikasi Limitasi Sosial Bertaraf Besar (PSBB) di sebagian besar propinsi buat memutuskan penebaran Covid-19.

Direktur Ciputra Development, Harun Hajadi menjelaskan Performa pemasaran PT Ciputra Development TBK (CTRA) selama Januari-Maret 2020 masih baik.

Tetapi, memasuksi bulan April pemasaran turun 37% dengan cara tahunan (YoY) serta diproyeksi akan berlangsung sampai bulan Mei bersamaan dengan pelemahan pasar.

“Sampai 31 maret 2020 pemasaran kita 2% lebih bagus daripada 2019, nah di April ini lah kita berlangsung pengurangan, s/d 30 April pemasaran kita turun 37% yoy. Itu karena disebabkan loyonya pasar di bulan April,” kata Harun dalam Squawk Box CNBC Indonesia, Rabu (20/05/20).

Menurut dia, warga semakin meredam pembelian rumaha waktu epidemi Covid-19. Ia mengharap kelonggaran PSBB yang diperkirakan akan terealisasi pada Juni 2020 bisa membuat pemasaran mulai kembali lagi naik.

“Adanya epidemi Corona ini, karena itu deman warga di property akan menurun sebab mereka memprioritaskan keperluan primer misalnya keperluan hidup penting, mereka takut akan berapa lama epidemi ini berjalan. Hingga kebutuhan-kebutuhan sekunder seperti perumahan atau kendaraan itu jadi bukan yang diprioritaskan sekarang ini,” katanya.

“Kami mengharap sesudah PSBB dilonggarkan pada bulan Juni kita akan lihat mulai ada peningkatan,” sambungnya.

Ia memberikan tambahan, selama ini bunga KPR cukup baik dibanding beberapa tahun awalnya. Tetapi, hal tersebut masih kurang menaikkan pemasaran bila keinginan tidak ada.

Beberapa pengembang property mengharap pemerintah turun tangan untuk menangani keadaan susah di industri property. Terutamanya pada Kewenangan Layanan Keuangan (OJK) serta Bank Indonesia (BI) supaya memberi keringanan provisi untuk Credit Kepemilikan Rumah (KPR)

“Nah jika contohnya saat ini dari BI serta OJK telah menjelaskan jika prinsipal itu dapat dipending, setidak tidaknya setahun dengan tak perlu bank-bank itu menetapkan provisi,” kata Harun.

READ  Sebelum Beli, Ketahui Jenis Alat Pemadam Kebakaran (APAR)

Menurutnya, ketentuan saat ini kemudahan KPR baru hanya penangguhan pembayaran inti, tidak termasuk juga bunga. Dengan begitu bank tetap harus membuat provisi.

Bila situasi lebih buruk, lanjut Harus, semestinya perlu diperhitungkan untuk tunda pembayaran bunga sampai enam bulan atau sampai akhir 2020.

“Kemudian, baru mereka mulai mencicil kembali lagi tanpa ada bank-bank itu dibebani dengan provisi-privisi itu. Serta demikian beberapa konsumen yang telah ambil KPR ini dapat hidup kembali lagi,” kata Harun.

Disamping itu, Direktur Berdiri sendiri Ciputra Development, Ikhlas Santoso memberikan tambahan pemasaran property Ciputra semasa Mei turun semakin dalam dibanding April, terutamanya di beberapa daerah yang mengaplikasikan PSBB.

Untuk mengakali lesunya pemasaran property yang lesu selama saat epidemi ini, perseroan konsentrasi mendesak ongkos dengan lakukan efektivitas di semua baris supaya masih bertahan.

“Kita lakukan efektivitas, mengharap ini sesaat saja,” katanya.

Awalnya, Perkumpulan Real Estate Broker Indonesia (Arebi) menulis ada pengurangan harga 20-30% untuk perumahan sisa, sekalinya di teritori elite Pondok Indah, Jakarta Selatan.

“Koreksinya macam, tidak dapat dipastikan, ada yang 20%, 30% serta tempo hari ada nyaris 40%. Bergantung keperluan sang owner. Tetapi kalau lainnya rerata 15-20%,” kata Senior Associate Director Masa Graha Igantius Raymond Gunawan pada CNBC Indonesia, Rabu (20/5).

Dari penilaian CNBC Indonesia di sejumlah pasar place, harga rumah di Pondok Indah nilainya ata-rata telah di atas Rp. 20 miliar. Serta ada yang capai Rp 60 miliar.

Namun, di waktu epidemi ini, beberapa pemilik rumah masih meredam tidak untuk jual asetnya. Di lain sisi, calon konsumen semakin pilih untuk menanti sekalian harga turun. Hingga transaksi rumah eksklusif sedikit berlangsung waktu epidemi.

Raymond menjelaskan, pemasaran rumah di teritori Pondok Indah relatif jarang ada bila cuma dikarenakan oleh unsur perlu uang. Masalahnya bila karena unsur perlu uang, karena itu harga dapat betul-betul jatuh.

“Sebetulnya pengurangan ada tentu sebab dengan situasi ini banyak waiting dahulu jadi ya memang pernah bulan Maret juga sempat alami minim transaksi . Jadi pengurangan tentu, April-Mei ini mulai beberapa sebab ada rekonsilasi dari owner-owner, sesuai kebutuhannya,” tutur Raymond.

READ  Pembisnis Properti Kian Lesu Terdampak Wabah Corona

Comments are closed.